Sign in

Sebelum petang
antar aku pulang
dan sebelum sepi
karena musim semi

Di kota,
perayaan demi perayaan.
Dengan kembang api,
dan konferti berhamburan

Pada tiap tubuh
aster tumbuh
gugur perlahan
hingga berhamburan

Aster,
antar aku menyusuri
sungai paling sepi
tempat sajak-sajak mati


Tentang malam dan manusia-manusia yang berbincang denganku sehabis hujan reda.

2 September 2016
langkah kaki semakin cepat… cepat… tidak melambat pun waktu. Setelah mengamini doa, memohon ampun, dan ditutup dengan hamdalah. Barisan depan, kiri, kanan, dan belakang seakan ingin bergegas pergi, kemanapun. Entah, siapapun itu. Aku kembali mengulang doa-doa tadi, lalu mengamini doaku sendiri, memohon ampun untukku, dan ditutup dengan hamdalah

3 September 2016
langkah kaki semakin cepat… derap beriringan, sesekali berhenti untuk saling memeluk. Sudah hampir tengah hari, banyak yang mulai berlari meski sesekali berhenti untuk saling memeluk.

Sungkem,
“Gusti iku cedhak tanpa senggolan, adoh tanpa wangenan” (Tuhan itu dekat meski tubuh kita tidak dapat menyentuhnya dan akal kita menjangkaunya)

Soemartini Binti Madja
Lahir: 21 Juni 1926
Wafat 3 September 2016


Meminjam tempo khitbah yang sesingkat-singkatnya. Sedikit ulasan citra untuk menggambarkan cerita yang begitu tidak singkat sesungguhnya.

Masih beberapa detak lagi atau bahkan yang tak terhingga untuk perayaan-perayaan lain setelah ini.

Hari itu, ritus yang tak nampak begitu khidmat. Februari, bulan kala itu, belum ditinggalkan penghujan. Kemarau entah kemana gerangan, malamnya langit bersih; yang siang menawarkan bunga randu alas dan kembang celung. Pada jendela bisa memandang orang-orang yang lalu lalang dan sekaligus bisa juga saling memandang?

Perempuan itu singkapkan gorden jendela. Kaki-kaki kabut sehabis gerimis semalaman. Ia tiba-tiba dengar suara, yang selalu dikenalnya. Ia pun duduk di ruang tamu menatap pintu.

Selamat berbahagia untuk kedua sahabat, berkah dalem.


“… tentang perkara yang sebenarnya dapat lekas terselesaikan dengan logika.” Katanya, dalam sebuah pusara.

Waktu memang tidak pernah berhenti,
Sialnya, kita suka sekali menerka
hal-hal yang belum terjadi.

Ada yang terlupa,
bahwa segala, bermuara
di dalam kepala.


Cerita ini ditulis ulang, dengan sengaja.

Segalanya berputar-putar
lalu remang
yang berpendar
belum juga padam

Mengapa perayaan-perayaan selalu ada dalam masehi?
Aku benci segala berlebihan
perayaan hari lahir,
perayaan tahun baru,
terompet, kembang api, hingar bingar, sorakan, sudahlah.
Besok juga sama saja. Masih ada yang makan nasi basi, melempar dadu dan menangisi waktu.

Apapun,
kubaca ulang setiap Minggu malam
Senin sampai Jumat mengamini mimpi di dalam ruang kaca
Membaca sampai bebal,
melihat orang-orang berpose dari layar telepon genggam
Menghitung laba dan rugi,
lalu kubaca ulang setiap Minggu malam
Menakar pertanyaan-pertanyaan
Apa aku masih punya impian?


- Padahal, saya harap dapat memberi judul cerita ini belakangan

Perkenalkan saya adalah 23 tahun. Berkelamin biasa-biasa saja, karena mapan katanya adalah pilihan. Hari ini saya laki-laki, entah esok, satu minggu, dua bulan, atau seperempat abad lagi saya menjadi apa.

Takdir, tidak ada satu orangpun yang tahu, pun tanaman yang berhimpitan di halaman rumah. Itu Ibu yang tanam, banyak juga…

P D

Sedang di utara Jakarta

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store